Advertisement

Showing posts with label Ilmu Jiwa Belajar Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Jiwa Belajar Bahasa. Show all posts
  • Perkembangan Bahasa Anak Oleh : M. Lutfi Yamani


    BAB I
    PENDAHULUAN

    A.Latar Belakang
    Allah swt. berfirman”

    "Hai Yahya, ambillah[899] Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. dan kami berikan kepadanya hikmah[900] selagi ia masih kanak-kanak, 13. Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi kami dan kesucian (dan dosa). dan ia adalah seorang yang bertakwa, (Q.S Maryam “12-13)

    Masa bayi atau balita (di bawah lima tahun) adalah masa yang paling signifikan dalam kehidupan manusia. Masa ini tak ubahnya seperti pondasi bagi sebuah bangunan. Jika pondasi kokoh dan kuat, maka bangunan akan tegak kokoh dan tahan lama. Sebaliknya, jika pondasinya lemah dan rapuh, maka bangunan akan mudah roboh atau rusak, bagimanapun baiknya bahan-bahan dan teknik-teknik pembangunan yang dipakai. Begitulah sunnatullah.

    Pada masa balita ini, manusia pertama kali belajar atau diperkenalkan dengan suasana yang sama sekali “baru”, dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya di dalam kandungan. Masa balita ini bisa dibagi menjadi 2 periode, yaitu masa orok (0-2 minggu), masa bayi (2 minggu-2 tahun) dan masa kanak-kanak (2-5 tahun).
    Selama 3 hari pertama, orok yang normal masih lebih banyak tidur. Sekitar 80% waktunya dipergunakan untuk tidur. Sehingga aktifitas orok tidak begitu banyak dan belum melakukan reaksi-reaksi organ tubuhnya. Setelah 2 minggu kelahiran organ-organ tubuh bayi mulai berkembang dan berfungsi. Secara betahap, bayi mulai mampu melakukan berbagai kegiatan tanpa bantuan orang lain, mulai dari berbalik, duduk, merangkak dan lain sebagainya.

    Pada awal masa orok gerakan-gerakan bai masih banyak yang muncul dari instingnya, menjelang usia 7-8 bulan, perasaan atau emosi bayi mulai muncul, walaupun rasio atau pikirannya belum berfungsi sama sekali. Pada usia 12-14 bulan, bayi mulai mengenal lingkungannya, baik lingkungan fisik ataupun sosial. Bayi mulai bisa membedakan benda-benda dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Secara bertahap, bayi mulai memahami hubungan antar “kata” dengan apa atau siapa saja yang ada di sekitarnya. Dan untuk itu, bayi mulai memerlukan alat ekspresi yang disebut “bahasa”.

    Mulai masa inilah bayi mulai belajar mengenal bahasa dari sekitarnya. Pemerolehan bahasa pada bayi sangatlah bertahap yang di bagi dalam beberapa fase yang akan dipapakarkan dalam makalah ini melalui dengan berpatokan pada pendapat para pakar Psikologi dan pakar bahasa. Oleh karena itu penulis sengaja mengangkat tema yang berkaitan dengan pemerolehan bahasa pada manusia khusunya pada anak-anak yaitu “Perkembangan Bahasa Anak.

    B.Rumusan Masalah
    Dari latar belakang tersebut, dalam makalah ini penulis dapat merumuskannya menjadi beberapa rumusan masalah, yaitu:
    1.Pegertian perkembangan bahasa
    2.Tahapan-tahapan dalam perkembangan bahasa
    3.Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa
    4.Karakteristik perkembangan bahasa remaja.

    BAB II
    PEMBAHASAN

    A.Pengertian Perkembangan Bahasa
    Seorang psikologi perkembangan dari Illinois State University bernama Laura E. Berk (1989) setelah mempelajari dan meneliti berbagai aspek perkembangan individu, sampailah dia pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan bahasa merupakan kemampuan khas manusia yang paling kompleks dan mengagumkan. Sungguhpun bahasa itu kompleks, namun pada umumnya berkembangan pada individu dengan kecepatan luar biasa pada pada awal masa kanak-kanak.

    Anak datang dengan kemampuan membedakan bunyi yang bersesuaian dengan fonem yang berbeda dalam semua bahasa. Apa yang berbeda selama tahun pertama kehidupan adalah bayi mempelajari fonem mana yang relevan dengan bahasanya, dan kehilangan kemampuan untuk membedakan bunyi-buyi yang bersesuaian dengan fonem yang sama dalam bahasanya. Fakta luar biasa tersebut ditentukan oleh eksperimen dimana bayi dipresentasikan pasangan bunyi secara berututan sementara mereka mengisap dot.

    Berbagai peneliti psikologi perkembangan mengatakan bahwa secara umum perkembangan bahasa lebih cepat dari perkembangan aspek-aspek lainnya, meskipun kadang-kadang ditemukan juga sebagian anak yang lebih cepat perkembangan motoriknya daripada perkembangan bahasanya. Berdasarkan hasil-hasil penelitiannya maka para ahli psikologi perkembangan mendefinisikan perkembangan bahasa sebagai kemampuan individu dalam menguasai kosa kata, ucapan, gramatikal, dan etika pengucapannya dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan perkembangan umur kronologisnya. Perbandingan antara umur kronologis dengan kemampuan berbahasa individu menunjukkan perkembangan bahasa individu yang bersangkutan.

    B.Tahapan Perkembangan Bahasa
    Ada aspek lingustik dasar yang bersifar universal dalam otak manusia yang memungkinkan untuk menguasai bahasa tertentu. Sedangkan menurut kaum empiris yang dipelopori para penganut aliran behavioristik memandang bahwa kemampuan berbahasa merupakan hasil belajar individu dalam interaksinya dengan lingkungan. Penguasaan bahasa merupakan hasil dari perkembangannya. Menurut para penganut aliran behavioristik, penggunaan bahasa merupakan asosiasi yang terbentuk melalui proses pengkondisian klasik (classical conditioning), pengondisian operan (operan conditioning), dan belajar sosial (sosial learning).

    Secara umum, perkembangan keterampilan berbahasa pada individu menurut Berk (1989¬) dapat dibagi ke dalam empat komponen, yaitu:
    1.Fonologi (phonology)
    2.Semantik (semantic)
    3.Tata bahasa (grammar), dan
    4.Pragmatic (pragmatics)

    fonologi berkenaan dengan bagaimana individu memeahami dan menghasilkan bunyi bahasa. Jika kita pernah mengunjungi daerah lain atau Negara lain yang bahasanya tidak kita mengerti boleh jadi kita akan kagum, heran, atau bingung karena bahasa orang asli di sana terdengar begitu cepat dan sepertinya tidak putus-putus antara satu kata dengan kata yang lain. Sebaliknya, orang asing yang sedang belajar bahasa kita juga sangat mungkin mengalami hambatan karena tidak familier dengan bunyi kata-kata dan pola intonasinya. Bagaimana seseorang memperoleh fasilitas kemampuan memahami bunyi kata dan intonasi merupakan sejarah perkembangan fonologi.

    Semantik merujuk kepada makna kata atau cara yang mendasari konsep-konsep yang ekspresikan dalam kata-kata atau kombinasi kata. Setelah selesai masa prasekolah, anak-anak memperoleh sejumlah kata-kata baru dalam jumlah yang banyak. Penelitian intensif tentang perkembangan kosa kata pada anak-anak diibaratkan oleh Berk (1989) sebagai sejauh mana kekuatan anak untuk memahami ribuan pemetaan kata-kata ke dalam konsep-konsep yang dimiliki sebelumnya meskipun belum tertabelkan dalam dirinya dan kemudian menghubungkannya dengan kesepakatan dalam bahasa masyarakatnya.

    Grammar merujuk kepada penguasaan kosa kata dan memodifikasikan cara-cara yang bermakna. Pengetahuan grammar meliputi dua aspek utama.
    1.sintak (syntax), yaitu aturan-aturan yang mengatur bagaimana kata-kata disusun ke dalam kalimat yang dipahami.
    2.morfologi (morphology), yaitu aplikasi gramatikal yang mliputi jumlah, tenses, kasus, pribadi, gender, kalimat aktif, kalimat pasif, dan berbagai makna lain dalam bahasa.

    Pragmatik merujuk kepada sisi komunikatif dari bahasa. Ini berkenaan dengan bagaimana menggunakan bahasa dengan baik ketika berkomunikasi dengan orang lain. Di dalamnya meliputi bagaimana mengambil kesempatan yang tepat, mencari dan menetapkan topik yang relevan, mengusahakan agar benar-benar komunikatif, bagaimana menggunakan bahasa tubuh (gesture), intonasi suara, dan menjaga konteks agar pesan-pesan verbal yang disampaikan dapat dimaknai dengan tepat oleh penerimanya. Pragmatik juga mencakup di dalamnya pengetahuan sosiolinguistik, yaitu bagaimana suatu bahasa harus diucapkan dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Agar dapat berkomunikasi dengan berhasil, seseorang harus memahami dan menerapkan cara-cara interaksi dan komunikasi yang dapat diterima oleh masyarakat tertentu, seperti ucapan selamat datang dan selamat tinggal serta cara mengucapkannya. Selain itu, seseorang juga harus memperhatikan tata krama berkomunikasi berdasarkan hirarki umur atau status sosial yang masih dijunjung tinggi dalam suatu masyarakat tertentu.

    Dilihat dari perkembangan umur kronologis yang dikaitkan dengan perkembangan kemampuan berbahasa individu, tahapan perkembangan bahasa dapat dibedakan ke dalam tahap-tahap sebagai berikut:

    1.Tahap meraban (pralinguistik) pertama
    Pada tahap meraban pertama, selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi-bayi menangis, mendekut, mendenguk, menjerit, dan tertawa, seolah-olah menghasilkan tiap-tiap jenis yang mungkin dibuat. Banyak pengamat menandai ini sebagai tahap bayi menghasilkan segala bunyi ujaran yang dapat ditemui dalam segala bahasa dunia. Adalah menarik perhatian bahwa produksi-produksi seorang bayi ditandai dengan cara ini, tetapi karakterisasi tersebut mungkin tidak benar berdasarkan fakta-fakta, terutama sekali dalam kasus konsonan-konsonan yang amat rumit.

    Bagaimanapun juga, hal yang penting adalah bahwa suara-suara bayi yang masih kecil itu secara linguistik tidaklah merupakan ucapan-ucapan yang berdasarkan organisasi fonemik dan fonetik. Suara-suara atau bunyi-bunyi tersebut tidaklah merupakan bunyi-bunyi ujaran, tetapi barulah merupakan tanda-tanda akustik yang diturunkan oleh bayi-bayi kalau mereka menggerakkan alat-alat bicaranya dalam setiap susunan atau bentuk yang mungkin dibuat. Mereka bermain dengan alat-alat suara mereka, tetapi rabanan mereka hendaknya jangan digolongkan sebagai performansi linguistic.

    2.Tahap meraban (pralinguistik) kedua
    Tahap ini disebut juga tahap kata omong kosong, tahap kata tanpa makna. Awal tahap maraban kedua ini biasanya pada permulaan pertengahan kedua tahun pertama kehidupan. Anak-anak tidak menghasilkan sesuatu kata yang dapat dikenal, tetapi mereka berbuat seolah-olah mengatur ucapan-ucapan mereka sesuai dengan pola suku kata. Banyak kerikan yang aneh-aneh serta dekutan-dekutan yang menyerupai vokal hilang dari output para bayi, dan mereka mulai menghasilkan urutan-urutan KV (konsonan-vokal), dengan satu suku kata yang sering diulang berkali-kali.

    Pada suatu waktu bagian terakhir periode ini (sekitar akhir tahun pertama kehidupan) muncullah “kata pertama”. Biasanya kata itu tidak akan berbunyi lebih menyerupai kata orang dewasa daripada sejumlah rabanan yang telah dihasilkan oleh bayi selama tahap ini, tetapi akan dianggap sebagai kata pertama itu. Misalnya seorang bayi (bayi keluarga Cairns) mengatakan [X] dan menunjuk kepada tempat lilin, lampu, lampu senter, lampu mobil, bahkan kepada tombol (lampu) di dinding. Orang tuanya menerima [X] sebagai kata bukan karena berbunyi lebih menyerupai kata daripada ucapan-ucapannya yang lain, tetapi karena jelas bunyi tersebut mempunyai jodoh makna (dalam kasus ini “cahaya; lampu), dan itulah sebenarnya apa yang disebut ujaran dan bahasa itu.

    3.Tahap holofrastik (tahap linguistic pertama)
    Pada usia sekitar 1 tahun anak mulai mengucapkan kata-kata. Satu kata yang diucapkan oleh anak-anak harus dipandang sebagai satu kalimat penuh mencakup aspek intelektual maupun emosional sebagai sebagai rasa untuk menyatakan mau tidaknya terhadap sesuatu. Anak menyatakan “mobil” dapat berarti “saya mau mobil-mobilan”, “saya mau ikut naik mobil bersama ayah”, atau “saya mau minta diambilkan mobil mainan”.
    Ucapan-ucapan satu kata pada periode ini disebut holofrase-holofrse, karena anak-anak menyatakan makna keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang diucapkanya itu. Banyak sekali terdapat kedwimaknaan dalam ujaran anak-anak selama tahap ini dan juga berikutknya. Maka seringkali perlu diamati benar-benar apa yang sedang dilakukan anak-anak itu, barulah kita dapat menentukan apa yang dia maksudkan dengan yang dia ucapkan itu.

    4.Ucapan-ucapan dua kata
    Anak-anak memasuki tahap ini dengan pertama sekali mengucapkan dua holofrase dalam rangkaian yang cepat. Misalnya, anak-anak yang mempergunakan holofrase-holofrase “kucing” dan “papa” mungkin menunjuk kepada seekor kucing dan diikuti oleh jeda sebentar, lalu kepada papa. Maknanya akan terlihat dari urutan ‘kucing papa’, tetapi jelas anak-anak itu telah mempergunakan dua buah holofrase untuk menyatakan makna tersebut. Segera setelah itu anak-anak akan mulai memakai ucapan-ucapan dua kata seperti ‘baju mama’, ‘pisang nenek’, ‘saya mandi’, dan sebagainya.

    Selama periode dua kata ini anak-anak tidak menggunakan infleksi. Verba-verba yang mereka pakai tidak mempunyai penanda-penanda waktu dan jumlah; nomina-nomina mereka tidak memakai akhiran-akhiran jamak. Walaupun kosa kata perorangan amat berbeda-beda, namun pada tahap ini anak-anak jarang sekali menggunakan preposisi, partikel, dan konfungsi (yang biasa disebut kata tugas), misalnya: ‘papa mama pergi’ (papa dan mama pergi), ‘nenek Bandung’ (nenek ke Bandung).

    Pada tahap ini anak mulai memiliki banyak kemungkinan untuk menyatakan kemauannya dan berkomunikasi dengan menggunakan kalimat sederhana yang disebut dengan istilah “kalimat dua kata” yang dirangkai secara tepat.

    5.Pengembangan tata bahasa
    Pada tahap ini anak mulai mengembangkan tata bahasa, panjang kalimat mulai bertambah, ucapan-ucapan yang dihasilkan semakin kompleks, dan mulai menggunakan kata jamak. Penambahan dan pengayaan terhadap sejumlah dan tipe kata secara berangsur-angsur meningkat sejalan dengan kemajuan dalam kematangan perkembangan anak.

    Ujaran anak-anak pada masa ini dilukiskan sebagai telegram karena perhitungan kata-kata tugas yang menyebabkan ucapan anak-anak itu berbunyi seperti telegram yang ditulis oleh orang dewasa.

    6.Tata bahasa menjelang dewasa (tahap pengembangan tata bahasa lengkap)
    Pada tahap ini anak semakin mampu mengembangkan struktur tata bahasa yang lebih kompleks lagi serta mampu melibatkan gabungan kalimat-kalimat sederhana dengan komplementasi, relativasi, dan kongjungsi. Perbaikan dan penghalusan yang dilakukan pada periode ini mencakup belajar mengenai berbagai kekecualian dari keteraturan tata bahasa dan fonologis dalam bahasa terkait.

    Liber (1973) melaporkan perkembangan kalimat-kalimat kompleks pada tiga orang anak yang berusia dua dan tiga tahun. Konstruksi-konstruksi komplek pertama yang melibatkan komplemen-komplemen yang berfungsi sebagai NP obyek, seperti ‘saya melihat kamu duduk’, tetapi tidak ada suatu contoh tunggal suatu komplemen yang bertindak sebagai NP subyek sebelum usia tiga tahun. Kedua, tetapi tidak begitu sering, Limber mengamati anak kalimat yang mengubah nomina-nomina obyek, seperti ‘saya memperlihatkan (kepada) kamu bola yang saya peroleh’. Akan tetapi, beliau tidak pernah mengamati suatu anak kalimat yag mengikuti NP subyek. Maka adalah wajar untuk berspekulasi bahwa tiada komplementasi juga tidak ada relativasi mengikuti NP subyek itu pada kalimat-kalimat kompleks permulaan anak-anak sebab untuk menghasilkannya akan merombak kesinambungan kalimat utama, meletakkan kalimat utama, meletakkan beban yang lebih berat pada IJP (ingatan jangka pendek) serta membuat perencanaan ucapan yang lebih lengkap.

    7.Kompetensi lengkap
    Pada akhir masa anak-anak, perbendaharaan kata terus meningkat, gaya bahasa mengalami perubahan dan semakin lancar serta fasih dalam berkomunikasi. Keterampilan dan performansi tata bahasa terus berkembang kea rah tercapainya kompetensi berbahasa secara lengkap sebagai perwujudan dari kompetensi komunikasi.
    Ini mengakhiri pembicaraan singkat kita mengenai tahap-tahap perkembangan yang dilalui. Dalam pembahasan tersebut disajikan hal-hal yang digunakan sebagai kerangka dasar yang harus diisi kalau sedang mendiskusikan perkembangan-perkembangan empiris dan teoritis dalam bidang pemerolehan bahasa.

    C.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
    Aliran nativisme berpandangan bahwa perkembangan kemampuan berbahasa seseorang ditentukan oleh faktor-faktor bawaan sejak lahir yang diturunkan oleh orang tuanya. Dengan demikian, jika orang tuanya memiliki kemampuan berbahasa yang baik dan cepat, perkembangan bahasa anak pun juga akan baik dan cepat. Begitu juga sebaliknya, jika kemampuan bahasa orang tuanya lambat dan kurang baik, perkembangan bahasa anak pun ikut lambat dan kurang baik.

    Sementara itu, aliran empirisme atau behaviorisme justru berpandangan sebaliknya, yaitu bahwa kemampuan perkembangan berbahasa seseorang tidak ditentukan oleh bawaan sejak lahir melainkan ditentukan oleh proses belajar dari lingkungan sekitarnya. Jadi, menurut aliran ini proses belajarlah yang sangat menentukan kemampuan perkembangan bahasa seseorang. Dari perspektif ini, meskipun kemampuan bahasa orang tuanya kurang baikdan lambat tetapi jika proses stimulasi dan proses belajar dilakukan secara intensif dengan lingkungan berbahasa secara baik dan cepat, kemampuan perkembangan bahasa anak menjadi baik dan cepat.

    Adapun aliran lain yang cendrung lebih moderat, yaitu aliran konvergensi mengajukan pandangan yang merupakan kolaborasi dari faktor bawaan dan pengaruh lingkungan. Menurut aliran ini perkembangan kemampuan bahasa seseorang merupakan konvergensi atau perpaduan dari kedua faktor tersebut. Faktor bawaan yang kuat pengaruhnya terhadap perkembangan bahasa seseorang adalah aspek kognitif. Kemampuan berbahasa seseorang banyak dipengaruhi oleh kapasitas kemampuan kognitif seseorang.

    Sedangkan faktor lingkungan juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan bahasa seseorang yaitu besarnya kesempatan yang diperoleh dari lingkungannya. Individu yang sehari-harinya banyak berinteraksi dengan lingkungan yang kaya kemampuan bahasanya cenderung memliki kesempatan lebih banyak dalam dan lebih bagus untuk mengembangkan bahasanya. Sebaliknya, individu yang banyak berinteraksi dengan lingkungan yang miskin kemampuan bahasanya cenderung memberikan kesempatan yang terbatas terhadap perkembangan bahasa individu yang tumbuh dan berkembang di dalamnya.

    Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:
    1.Kognisi
    Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang.
    2.Pola komunikasi dalam keluarga
    Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah atau interaksinya relatif demokratis akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya dibanding yang menerapkan komunikasi dan interaksi sebaliknya.
    3.Jumlah anak atau jumlah keluarga
    Suatu keluarga yang memiliki banyak anak atau banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti.
    4.Posisi urutan kelahiran
    Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak tengah memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.
    5.Kedwibahasaan (Bilingualisme)
    Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi.

    Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia.
    Dalam bukunya “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” Syamsu Yusuf mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu: faktor kesehatan, intelegensi, statsus sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga.

    D.Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja
    Mengacu kepada tahapan perkembangan bahasa yang telah dipaparkan terdahulu, sesuai dengan tingkatan usia kronologis yang telah dicapai, karakteristik perkembangan bahasa remaja telah mencapai tahap kompetensi lengkap. Pada usia ini, individu diharapkan telah mempelajari semua sarana bahasa dan keterampilan-keterampilan performansi untuk memahami dan menghasilkan bahasa tertentu dengan baik.

    Karakteristik perkembangan bahasa remaja sesungguhnya didukung oleh perkembangan kognitif yang menurut Jean Piaget telah mencapai tahap operasional formal. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, remaja mulai mampu mrngaplikasikan prinsip-prinsip berpikir formal atau berpikir ilmiah secara baik pada setiap situasi dan telah mengalami peningkatan kemampuan dalam menyusun pola hubungan secara komperhensif, membandingkan secara kritis antara fakta dan asumsi dengan mengurangi penggunaan symbol-simbol dan terminologi konkret dalam mengomunikasikannya.

    Sejalan perkembangan psikis remaja yang berada pada fase pencarian jati diri, ada tahapan kemampuan berbahasa pada remaja yang berbeda dari tahap-tahap sebelum atau sesudahnya yang kadang-kadang menyimpang dari norma umum seperti munculnya istilah-istilah khusus di kalangan remaja. Karakteristik psikologis khas remaja seringkali mendorong remaja membangun dan memiliki bahasa relatif berbeda dan bahkan khas untuk kalangan remaja sendiri, sampai-sampai tidak jarang orang di luar kalangan remaja kesulitan memahaminya. Dalam perkembangan masyarakat modern sekarang ini, di kota-kota besar bahkan berkembang pesat bahasa khas remaja yang sering dikenal dengan bahasa gaul. Bahkan karena pesatnya perkembangan bahasa gaul ini dan untuk membantu kalangan diuluat remaja memahami bahasa mereka, Debby Sahertian (2000) telah menyusun dan menertibkan sebuah kamus khas remaja yang disebut dengan “Kamus Bahasa Gaul”. Dalam kamus itu tertera sekian ribu bahasa gaul yang menjadi bahasa khas remaja yang jika kita pelajari sangat berbeda dengan bahasa pada umumnya. Kalangan remaja justru sangat akrab dan sangat memahami bahasa gaul serta merasa lebih aman jika berkomunikasi dengan sesama remaja menggunakan bahasa gaul.

    BAB III
    PENUTUP

    A.Kesimpulan
    Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan beberapa poin, yaitu :
    1.Para ahli psikologi perkembangan mendefinisikan perkembangan bahasa sebagai kemampuan individu dalam menguasai kosa kata, ucapan, gramatikal, dan etika pengucapannya dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan perkembangan umur kronologisnya.
    2.Tahapan perkembangan bahasa dapat dibedakan ke dalam 6 tahapan, yaitu: Tahap Meraban/pralinguistik (pertama dan kedua), tahap holofrstik (tahap linguistic pertama), tahap ucapan dua kata, tahap pengembangan tata bahasa, tahap tata bahasa menjelang dewasa, tahap kompetensi lengkap
    3.Ada perbedaan pendapat tentang faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak diantaranya, aliran nativisme yang menyatakan bahwa berkembangnya bahasa itu ditentukan oleh faktor-faktor bawaan sedangkan aliran empirisme atau behaviorisme justru berpandangan sebaliknya, yaitu bahwa kemampuan perkembangan berbahasa seseorang tidak ditentukan oleh bawaan sejak lahir melainkan ditentukan oleh proses belajar dari lingkungan sekitarnya dan ada aliran lain yang cendrung lebih moderat, yaitu aliran konvergensi mengajukan pandangan yang merupakan kolaborasi dari faktor bawaan dan pengaruh kingkungan.
    Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu: Kognisi, Pola komunikasi dalam keluarga, Jumlah anak atau jumlah keluarga, Posisi urutan kelahiran, Kedwibahasaan (Bilingualisme)
    4.Karakteristik perkembangan bahasa remaja dipengaruhi oleh karakteristik psikologis khas remaja yang mendorong remaja membangun dan memiliki bahasa relatif berbeda dan bahkan khas untuk kalangan remaja sendiri, sampai-sampai tidak jarang orang di luar kalangan remaja kesulitan memahaminya.

    B.Saran dan Harpan
    Dengan membaca makalah ini penulis berharap agar para pembaa yang budiman dapat mengambil satu hikmah sehingga bisa bermanfaat. Dan tentunya, penulis sadari bahwa dalam makalah ini terdapat banyak kelemahan. Dengan demikian, adalah suatu kegembiraan kiranya jika terdapat banyak kritik dan saran dari pembaca sebagai bahan pertimbanga untuk perjalanan ke depan.

    DAFTAR PUSTAKA

    Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja (Perkembangan Peseta didik), Jakarta; PT. Bumi Aksara, 2004

    Chaer, Abdul, Psikolingustik Kajian Teoretik, Jakarta; Rineka Cipta, 2003

    Davidof, Linda L, Psikologi Suatu Pengantar, Jakarta; Erlangga, 1988

    Henry Guntur Tarigan, Psikolingustik, Bandung; Angkasa, cet-10, 1986

    Jauhari, Muhammad Idris, Generasi Robbi Rodliya (Keluarga Yang Mendapat Rohmah dan Barokah Allah swt), Surabaya; Pustaka Hikmah Perdana, 2005

    Rita L. Akitson, DKK, Pengantar Psikologi, Batam; Interaksara, tanpa tahun

    Yusuf, Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung; PT. Rosda Karya, cet-5, 2004

    more
  • Billingualisme ; Sebuah Kajian Sosio-Linguistik


    Oleh : Bahauddin

    BAB I
    PENDAHULUAN


    A. Latar Belakang
    Ada asumsi yang mengatakan bahwa bahasa-bahasa adalah objek, yang secara ideal diantara objek-objek itu terdapat batas-batas yang jelas. Ini berimplikasi bahwa setiap ucapan dapat dikategorikan pada satu bahasa tertentu. Item-item yang jelas ‘termasuk bahasa lain’ dapat diakomodasikan – menurut pendapat ini – dengan istilah ‘bentuk pinjaman’ atau ‘terselip’ melalui interfensi. Asumsi tersebut tidak dapat dipakai lagi, sebab tidak mampu membahas bentuk-bentuk pengalihan antara bahasa-bahasa, sebagai satu gejala umum dalam masyarakat bilingual. Dan implikasinya adalah bahwa tingkah semacam itu membentuk gangguan yang yang mengurangi efesiensi tindak komunikatif dimana pengalihan itu terjadi. Hal yang sebaliknya juga banyak terbukti; bahwa percampuran bahasa itu sebenarnya memberikan fasilitas untuk itu biarpun jauh dari pengertian pembentukan komunikasi bagi para bilingual dengan repertoire-repertoire yang lebih sulit.

    Masyarakat tutur yang tertutup, yang tidak tersentuh oleh masyarakat tutur lain, entah karena letaknya jauh terpencil atau karena sengaja tidak mau berhubungan dengan masyarakat tutur lain, maka masyarakat tutur itu akan tetap menjadi masyarakat tutur yang statis dan tetap menjadi masyarakat yang monolingual. Sebaliknya, masyarakat tutur yang inklusif, dalam arti ia memiliki hubungan dengan masyarakat lain, tentu akan mengalami apa yang disebut kontak bahasa dengan segala peristiwa-peristiwa kebahasaan sebagai akibatnya. Peristiw-peristiwa tersebut yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya kontak bahasa itu adalah apa yang didalam sosiolinguistik disebiut bilingualisme, diglosia, alih kode, campur kode, interferensi, integrasi, konfergensi dan pergeseran bahasa.

    Dari pengalaman hidup di Indonesia, kita tahu bahwa di banyak Negara, bahkan banyak daerah dan kota, terdapat orang-orang yang memakai bahasa yang berlainan. Bisa juga terdapat orang-orang yang memakai lebuh dari satu bahasa, umpmanya bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Suatu daerah atau masyarakat di mana terdapat dua bahasa disebut daerah atau masyarakat yang berdwibahasa atau bilingual.
    Berpijak dari kerangka dasar di atas, maka dalam makalah ini dibahas tentang bilingualisme dan diglosia serta hubungan antara keduanya. Adapun tentang term-term lain yang berkenaan dengan sosiolimguistik akan diterangkan pada makalah lainnya.

    B. Rumusan masalah
    Dengan latar belakan di atas maka makalah ini dapat dirumruskan sebagai berikut :
    a.Apakah pengertian bilingualisme itu?
    b.Apakah pengertian diglosia itu?
    c.Dan bagaimanakah hubungan antara keduanya?


    BAB II
    PEMBAHASAN


    A.Pengertian Bilingualisme (Tsunaiyah al-Lughah)
    Istilah bilingualisme (Inggris: bilingualism) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud bilingualisme itu, yakni berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Dalam perspektif sosiolinguistik, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalalm pergaulannya dengan orang lain secara bergantian. Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama adalah bahasa ibu atau bahasa pertamanya (disingkat B1) dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (disingkat B2).

    Orang yang bisa menggunakan kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual –dalam bahasa Indonesia disebut dwibahasawan. Sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas—dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan.
    Bilingualisme dan Bilingualitas.

    Jika kita perhatikan hubungan logika antara bilingualisme dan bilingualitas, maka akan dapat dimengerti bahwa tidak semua yang memiliki “bilingulitas” akan mempraktikkan “bilingualisme” dalam kehidupan sehari-harinya, sebab hal ini tergantung pada situasi kebahasaan di lingkungannya. Namun, dapat pula kita pahami bahwa seseorang tidak akan dapat mempraktikkan “bilingualisme” tanpa memiliki “bilingualitas”. Singkatnya, bilingualisme brimplikasi pada bilingualitas.

    B.Diglosia (Lughah al-Mudzawijah)
    Istilah diglosia ini pertama kali digunakan dalam bahasa Perancis diglossie yang diserap dari bahasa Yunani διγλωσσία, 'dwibahasa') oleh bahasawan Yunani Ioannis Psycharis. Ahli bahasa Arab William Marçais lalu juga menggunakannya pada tahun 1930 untuk menuliskan situasi bahasa di dunia Arab.

    Diglosia adalah suatu situasi bahasa di mana terdapat pembagian fungsional atas variasi-variasi bahasa atau bahasa-bahasa yang ada di masyarakat. Yang dimaksud ialah bahwa terdapat perbedaan antara ragam formal atau resmi dan tidak resmi atau non-formal. Contohnya misalkan di Indonesia terdapat perbedaan antara bahasa tulis dan bahasa lisan.

    Akan tetapi, istilah diglosia tersebut menjadi terkenal dalam studi linguistik setelah digunakan oleh C.A. Ferguson, seorang sarjana dari Stanford University pada tahun 1958 dalam sebuah symposium tentang “Urbanisasi dan Bahasa-bahasa Standar” yang diselenggarakan oleh American Antropological Association di Washington DC.
    Ferguson mengunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat dimana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing punya peranan tertentu. Ferguson membahas diglosia ini dengan mengemukakan sembilan topic, yaitu fungsi, prestise, warisan sastra, pemerolehan, standarisasi, stabilitas, gramatika, leksikon, dan fonologi.

    Fungsi merupakan kriteria diglosia yang sangat penting. Menurutnya, dalam masyarakat diglosis terdapat dua variasi dari satu bahasa. Variasi pertama disebut dialek tinggi (disingkat dialek T), dan yang kedua disebut dialek rendah (disingkat dialek R). dalam bahasa Arab dialek T-nya adalah bahasa arab klasik, bahasa al-Qur’an yang disebut al-Fusha. Dialek R-nya adalah berbagai bentuk bahasa Arab yang digunakn oleh bangsa Arab yang lazim disebut ad-Darij.

    Pristise. Dalam masyarakat diglosis para penutur biasanya menganggap bahwa dialek T lebih bergengsi, lebih superior, lebih terpandang dan merupakan bahasa yang logis. Sedangkan dialek R dianggap inferior, malah ada yang menolak keberadaannya.
    Pemerolehan dialek T diperoleh dengan mempelajarinya dalam pendidikan formal, sedangkan dialek atau ragam R diperoleh dari pergaulan dengan keluarga dan teman-teman. Dan karena ragam T dipandang sebagai ragam yang bergengsi, maka tidak mengherankan kalau standarisasi dilakukan terhadap ragam T tersebt melalui kodifikasi formal. Kamus, tata bahasa, petunjuk lafal, dan buku-buku kaidah untuk penggunaan yang benar ditulis untuk ragam T. Stabilitas dalam masyarakat diglosis biasanya telah berlangsung lama dimana ada sebuah variasi bahasa yang dipertahankan eksistensinya dalam masnyarakat itu.

    C.Hubungan Bilingualisme dengan Diglosia
    Ketika diglosia diartikan sebagai adanya pembedaan fungsi atas penggunaan bahasa dan bilingualisme sebagai adanya penggunaan dua bahasa secara bergantian dalam masyarakat, maka Fishman menggambarkan hubungan diglosia sebagai berikut:

    a.Bilingualisme dan diglosia
    Di dalam masyarakat yang dikarekterisasikan sebagai masyarakat yang bilingualisme dan diglosia, hamper setiap orang mengetahui ragam atau bahasa T dan ragam atau bahasa R. kedua ragam atau bahasa itu akan digunakan menrurut fungsinya masing-masing, yang tidak dapat dipertukarkan.

    b.Bilingaulisme tanpa diglosia
    Dalam masyarakat yang bilingualis tetapi tidak diglosis tetdapat sejumlah individu yang bilingual, namun mereka tidak membatasi penggunaan bahasa untuk satu situasi dan bahasa yang lain untuk situasi yang lain pula. Jadi, mereka dapat menggunakan bahasa yang manapun untuk situasi dan tujuan apapun.

    c.Diglosia tanpa bilingualisme
    Di dalam masyarakat yang beriri diglosia tapi tanpa bilingualismre terdapat dua kelompok penutur. Kelompok pertama yang biasanya lebih keil, merupakan kelompok ruling group yang hanya biara dalam bahasa T. sedangkan kelompom kedua yang biasanya lebih besar, tidak memiliki kekuasaan dalam masyarakat, hanya berbiara bahasa R. siatasi diglosia tanpa bilingualisme banyak kita jumpai di Eropa sebelum perang dunia pertama.

    d.Tidak bilingualisme dan tidak diglosia
    Masyarakat yang tidak diglosia dan tidak bilingual tentunya hanya ada satu bahasa dan tanpa variasi serta dapat digunakan untuk segala tujuan. Keadaan in hanya mugnkin ada dalam masyarakat primitive atau terpencil, yang dewasa ini tentunya sukar ditemukan. Masyarakat yang tidak diglosia dan bilingual ini akan mencair apabila telah bersentuhan dengan masyarakat lain.


    BAB III
    PENUTUP


    A.Kesimpulan
    Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan beberapa poin, yaitu :
    1.Billingualisme adalah akibat dari penggunaan lebih dari satu kode oleh seseorang individu atau masyarakat.
    2.Diglosia adalah merupakan akibat dari valuasi perbedaan fungsional. Bilingulisme dan diglosia dapat terjadi sendiri-sendiri atau bersama-sama dalam suatu komunitas ujar.
    3.Hubungan antara keduanya amatlah tergantung dari aspek dan bagaimana kita memandangnya.

    B.Saran dan Harpan
    Dengan membaca makalah ini penulis berharap agar para pembaa yang budiman dapat mengambil satu hikmah sehingga bisa bermanfaat. Dan tentunya, penulis sadari bahwa dalam makalah ini terdapat banyak kelemahan. Dengan demikian, adalah suatu kegembiraan kiranya jika terdapat banyak kritik dan saran dari pembaca sebagai bahan pertimbanga untuk perjalanan ke depan.


    DAFTAR PUSTAKA

    Ibrahim, Abd. Syukur, Sosiolinguistik; Sajian, Tujuan, Pendekatan dan Problem, Surabaya, Usaha Nasional, tth.
    Abdul Chaer & Leonie Agustina, Sosiolinguistik Suatu Pengantar, Jakarta, Rineka Cipta, cet-1,1995
    Nababan, PWJ., Sosiolinguistik Suatu Pengantar, Jakarta: Gramedia Pustaka Uatama, cet-4, 1993
    http//www. id.wikipedia.jorg/wiki/Diglosia

    more
  • Struktur Kajian Ilmu Jiwa Belajar Bahasa

    BAB I
    PENDAHULUAN

    Latar belakang.
    Linguistic lebih memusatkan perhatiannya kepada bahasa sebagai medium komunikasi daripada sebagai hal-hal lain, apakah dalam bentuk lisannya ataukah dalam bentuk tertulisnya. Oleh karena ada ahli-ahli lain yang mempelajari manusia dari berbagai aspek, dan sering kali ahli-ahli lain yang mempelajari manusia dari berbagai aspek, dan sering kali ahli-ahli itu mempergunakan juga linguistic sebagai alat untuk menganalisis bahasa dalam bidang mereka, maka terjadi semacam gabungan pendekatan dalam studi itu.
    Dalam linguistic terdapat struktur-struktur yang mendasari pengetahuan linguistic. Oleh karena itu kami sengaja akan sedikit membahas tentang hal-hal yang mendasarinya dari sedikit ilmu yang kami dapatkan.

    RUMUSAN MASALAH
    Dari latar belakang tersebut, dalam makalah ini penulis dapat merumuskannya menjadi beberapa rumusan masalah, yaitu:
    1.Apa saja bidang-bidang linguistic itu?
    2.Pengertian dari setiap bidang tersebut?.

    BAB II
    PEMBAHASAN

    A.Bidang-bidang Linguistik
    Setiap ilmu pengetahuan lazim dibagi atas bidang-bidang bawahan atau cabang. Memang setiap ilmu pengetahuan meliputi bahan yang luas sekali, dan demi alasan praktis para ahli suka membagi ilmunya menjadi berbagai bidang bawahan atau cabang ilmunya. Demikian pula ilmu linguistik dibagi menjadi bidang bawahan yang bermacam-macam. Misalnya ada linguistik antropologis dan ada juga linguistik sosiologis/sosiolinguistik.

    Akan tetapi, bidang-bidang bawahan tadi semuanya mengandaikan adanya pengetahuan linguistik yang mendasarinya. Bidang yang mendasari adalah bidang yang menyangkut struktur-struktur dasar tertentu, yaitu:
    1.Struktur bunyi bahasa (Fonetik dan fonologi)
    2.Struktur kata (Morfologi)
    3.struktur antar kata dalam kalimat (sintaksis)
    4.masalah arti atau makna (semantic)

    B.Phonology Sistem
    Bidang linguistic yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa ini disebut dengan fonologi. Fonologi berasal dari kata Phon yang artinya bunyi, dan logi artinya ilmu. Menurut werarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibagi menjadi dua yaitu:

    1.Fonetik
    Fonetik adalah bifang linguistic yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Menurut urutan jenisnya fonetik dibagi menjadi tiga, yaitu: Fonetik Artikulatoratis, disebut juga fonetik organis atau fisiologis yaitu mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklarifikasikan. Fonetik Akustik, yaitu mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisik atau fenomena alam, bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, intensitasnya dan timbrenya. Fonetik Auditoris, yang mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dan dari ketiga jenis fonetik ini yang palimg dominan dalam dunia linguistic adalah Fonetik Artikulatoratis, sedangkan Fonetik Auditoris lebih dengan bidang kedokteran, yaitu neurology, dan Fonetik Akustik lebih berkenaan dengan fisika.

    2.Fonemik
    Objek penelitian fonetik adalah fon, yaitu bunyi bahasa yang pada umumnya tanpa memperlihatkan apakah bunyi tersebut itu mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak, sebaliknya objek penelitian fonemik adalah fonem, yaitu bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.

    Untuk mengetahui apakah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa, biasanya sebuah kata, yang mengandung binyi tersebut lalu membandingkan dengan satuan bahasa yang pertama, kalau ternyata kedua satuan bahasa tersebut berbeda maknanya, maka benar bunyi tersebut adalah sebuah fonem, karena ia bisa atau berfungsi membedakan makna kedua satuan bahasa itu.

    C.Morfologi System
    a.Morfem.
    Morfem merupakan satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna. Untuk menmentukan sebuah satuan bentuk morfem atau bukan, kita harus membandingaka bentuk tersebut didalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain. Kalau bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain, maka bentuk terserbut adaalah morfem. Contohnya adalah : ke pasar, ke kampus, ke dapur, kata (ke) yang diulang-ulang tersebut namanya morfem karena (ke) tersebut mempunyai makna yang sama yaitu tujuan.

    Morfem-morfem didalam bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa criteria antara lain :
    1.morfem bebas dan morfem terikat
    morfem bebas adalah mmorfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul didalam pertuturan misalnya bentuk pulang, makan, bagus adalah termasuk morfem bebas, kita dapat menggunakan morfem tersebut tanpa harus terlebih dahulu denagn morfem lain.
    Morfem terikat dalah morfem yang tanpa digabiung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan, misalnya bentuk-bentuk seperti, juang, henti, gaul termasuk morfem terikat karena bentuk-bentuk tersebut meskipun bukan afiks, tidak bisa muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi.

    2.Morfem utuh dan morfem terbagi
    Semua morfem bebas yang dibicarakan di atas seperti meja, kursi, kecil, laut, dan lain-lain.daalah termasuk morfem terikat, begitu juga dengan sebagian morfem terikat seperti : ber, ter, henti, juang, dan lain-lain. Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Seperti pada kata Indonesia kesatuan terdapat satu morfem utuh yaitu (satu) dan satu morfem terbagi yaitu (ke/an), perbuatan, morfem utuh yaitu (buat) morfem terbagi yaitu (per/an).

    3.Morfem Segmental dan morfem suprasegmental.
    Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk segmental, seperti morfem (lihat), (lah), (sikat), dan (ber), jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental seperti, tekanan, nada, durasi, dazn sebagainya.

    4.Morfem beralomorf zero
    Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun unsure suprasegmental, melainkan sebuah kekosongan atau salah satu alomorf dari morfem yang dibentuk oleh morfem tidak bermakna leksikal.

    5.Morfem bermakna lasikal dan morfem tidak bermakna klasikal
    Morfem bermakna kasikal adalah morfem morfem yang secara intern telah memiliki makna pada dirinya sendiri tampa berproses udldu dengan morfem yang lain.sebaliknya morfem yang tidak bermakna klasikal tidak mempunyai makna apap-apa pada dirinya sendiri. Morfem ini baru bermakna apabila digabung dengan morfem laindalam siatu proses morfologi, yang biasa dimaksud dengan morfem tidak bermakna klasikal ini adalah morfem-morfem afiks seperti : ber, me, dan tersebut.

    b.Kata
    Istilah kata sering kita dengar sering kita gunakan, para tatabahasa tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata berdasarkan arti dan ortografi, menurut mereka kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian.

    Jenis kata dalam tatabahasa tradisional atau dalam bahasa inggris part of speak, bahasa belanda woordsoorten disebut dangan kelas kata.yang sama dalam analisis ini adalah bahwa tiap linguis atau ahli bahasa mengakui dari satu sistem dalam bahasa. Penggolongan kata dalam kelas kata tidak lain untuk menemukan sistem dalam bahasa tersebut.

    Pengelompokan kelas kata sebuah bahasa pada umumnya dibagi dua tahap. Pertama klarifikasi primer dilakukan berdasarkan distribusi kata secara sintaksis dan frosal. Dalam hal ini kata-kata tersebut masih berada dalam keadaan sebagai morfem bebas atau morfem tunggal seperti: ayah, buku, kambing, dan sebagainya. Kedua, klarifikasi sekunder dilakukan berdasarkan distribusi dan frosal dalam bentuk kata kompleks, seperti: pemuda, gadis-gadis, bermain, melukai, dan sebagainya.

    c.Morfemis
    Diantara proses morfemis adalah:
    •Afiksasi
    Afiksasi adalah proses pertumbuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur, yaitu: dasar atau bentuk dasar, afiks dan makna gramatikal yang dihasilkan. Bentuk dasar yang menjadi dalam proses afiksasi adalah bentuk akar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi misalnya meja, beli, sikat. Dapat juga berupa kompleks seperti terbelakang pada keterbelakangan, berlaku pada kata memberlakukan, aturan pada kata beraturan, dapat juga bersifat frase, seperti ikut serta pada kata keikutsertaan, tiba di Jakarta pada setiba di Jakarta.
    •Reduplikasi
    Reduplikasi Adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan secara sebagian (parsial), mauoun dengan perubahan bunyi. Oleh karena itu, lazim dibedakan adanya reduplikasi penuh seperti meja-meja (dari dasar meja), reduplikasi sebagian seperti lelaki (dari dasar laki) dan reduplikasi dengan perubahan bunyi seperti bolak-balik (dari dasar balik)
    •Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang baru, komposisi terdapat dalam banyak bahasa misalnya: lalu lintas, daya juang.
    •Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanda perubahan segmental, seperti kata cangkul adalah nomina dalam kalimat ayah membeli cangkul baru, tapi dalam kalimat cangkul dulu baik-baik tanah ini, baru ditanami adalah sebuah kata verba .
    Modivikasi internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur ke dalam morfem yang berkerangka tetap.
    •Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian laksem atau gabungan laksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama dengan bentuk utuhnya, contoh: lab (Laboratorium), hlm (halaman), dan lain-lain.
    •Produktivitas proses morfemis adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, komposisi digunakan secara berulang-ulang secara relatif tak terbatas.

    d.Morfofonemik
    Morfofonemik disebut juga morfenemik, morfonologi atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi maupun komposisi. Jika dalam proses afiksasi bahasa Indonesia dengan prefiks me- akat terlihat bahwa prefiks me- itu akan berubah menjadi mem-, men-, atau tetap me- menurut aturan-aturan fonologis itu seperti dalam bentuk dasar yang konsonannya /b/ dan /p/ maka prefiks me- itu akan menjadi membeli (beli), memotong (potong).

    D.Sintakasis
    Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan. Tuturan adalah apa yang dituturkan orang. Salah satu satuan tuturan adalah kalimat. Kalimat adalah satuan yang merupakan suatu keseluruhan yang memiliki intonasi tertentu sebagai pemarkah keseluruhan itu. Sintaksis dalam bab ini dianggap menyangkut hubungan gramatikal antar kata di dalam kalimat.
    Struktur sintaksis.

    Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek (s), predikat (p), objek (o), dan keterangan (k). menurut Verhaar fungsi-fungsi itu terdiri dari dari unsur-unsur S-P-O-K itu merupakan kotak-kotak kosong atau tempat-tempat kosong yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya. Tempat-tempat kosong tersebut akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu. Kita contoh kalimat:
    Nenek melirik kakek tadi pagi.
    Nenek = S, melirik = Pada, Kakek = O, tadi pagi = Karena
    Tempat kosong bernama subjek diisi oleh kata nenek yang berkategori nomina, tempat kosong yang bernama predikat diisi oleh kata melirik yang berkategori nomina dan tempat kosong yang bernama keterangan diisi oleh frase tadi pagi yang berkategori nomina.

    Pengisi fungsi-fungsi itu yang berupa kategori sintaksis mempunyai peran-peran sintaksis. Kata nenek pada contoh di atas memiliki peran pelaku atau agentif, melirik memiliki peran aktif, kakek memiliki peran sasaran, dan tadi pagi memiliki peran waktu.


    E.Semantik
    Banyak teori tentang makna telah dikemukakan orang. Untuk permulaan barang kali kita ikuti saja pandangan Ferdinand de Saussure dengan teori tanda linguistiknya. Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure bahwa makna adalah “pengertian” atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistic.
    Semantic adalah cabang linguistic yang meneliti arti atau makna seperti sudah dicatat, semantic itu dibagi menjadi 2, 1. semantic gramatikal, 2. sematik leksikal.

    •Makna leksikal
    Makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya. Contoh, leksem kuda memiliki makna seksikal sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai.
    •Makna gramatikal
    Makna gramtikal batu ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi. Umpamanya Dalam proses afiksasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal mengenakan atau memakai baju

    BAB III
    PENUTUP


    Kesimpulan
    Bidang yang mendasari adalah bidang yang menyangkut struktur-struktur dasar tertentu, yaitu:
    1.Struktur bunyi bahasa (Fonetik dan fonologi)
    2.Struktur kata (Morfologi)
    3.Struktur antar kata dalam kalimat (sintaksis)
    4.Masalah arti atau makna (semantic)

    Fonologi berasal dari kata Phon yang artinya bunyi, dan logi artinya ilmu Menurut werarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya
    Morfologi adalah konstruksi-konstruksi yang disitu bentuk bentuk terikat terdapat di antara konstituen-konstituennya.

    Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan. Tuturan adalah apa yang dituturkan orang. Salah satu satuan tuturan adalah kalimat. Kalimat adalah satuan yang merupakan suatu keseluruhan yang memiliki intonasi tertentu sebagai pemarkah keseluruhan itu. Sedangkan Semantic adalah cabang linguistic yang meneliti arti atau makna.

    DAFTAR PUSTAKA

    Abdul Chaer, Linguistik Umum, Jakarta; Rineka Cipta, 2003
    Bloomfield, Leonard, Bahasa, Jakarta; Gramedia Pustaka Utama, 1995
    Jos Daniel paraie,morfologi bahasa,Jakarta : Gramedia Pustaka Utama 1994
    W. M Verhoar, Asas-asas Linguistik, Jakarta; Gramedia Pustaka Utama, 1995

    more

Buka Semua Folder | Tutup Semua

Kamus Online

Komentar Terbaru